Prahara Negeri Kunang Kunang

8

Satekari adalah sebuah agenda tahunan yang diselenggarakan oleh ekstrakulikuler yang ada di bidang seni. Pentas budaya satekari tahun ini diselenggarakan pada tanggal 14 Mei 2016 di gedung Wisma Budaya SMA Negeri 7 Purworejo. Tahun ini adalah tahun keempat diselenggarakannya satekari. Satekari sendiri merupakan kepanjangan dari SAKA, Teater, Karawitan, dan Tari. Keempat ekstrakurikuler ini bekerja sama untuk mempersembahkan sebuah pentas budaya. Pentas budaya ini bertujuan untuk mengapresiasi suatu kesenian yang kita miliki dan sebagai wujud dari pencapaian visi SMA Negeri 7 Purworejo yaitu apresiasi seni dan budaya yang tinggi.

            Sebagai generasi muda, kita wajib melestarikan kesenian yang kita miliki agar kesenian itu kelak masih bisa dinikmati oleh anak cucu kita. Pentas budaya satekari tahun ini mengangkat sebuah cerita berjudul Prahara Negeri Kunang-Kunang yang disutradarai oleh Hardjanto Djee, dipadukan dengan lemah gemulainya tarian dari anak-anak tari serta merdunya suara gamelan yang diiringi oleh anak-anak karawitan, dan suara emas dari anak-anak SAKA.

            Sambutan dari ketua panitia yaitu Shabrina W A menandai dimulainya acara, dilanjutkan dengan sambutan dari Ibu Kepala Sekolah yaitu Ibu Nikmah Nurbaity dan sambutan oleh perwakilan dari Bapak Kepala Dinas. Setelah itu dilanjutkan oleh penampilan dari Ponang Dyah Pangarsi yang membawakan sebuah lagu berjudul Cinta Datang Terlambat. Setelah itu dilanjutkan dengan tarian Denyut Tradisi yang dibawakan oleh Dinda Oktavia Endratno dan Jaka Sayidina Ali.

Prahara negeri kunang-kunang sendiri bercerita tentang sebuah negeri yang makmur dan damai, dan semua rakyatnya hidup dalam kegembiraan. Namun setelah anak sang Raja yang bernama Cengkar tumbuh besar, negeri tersebut menjadi kacau karena sifat Cengkar yang tamak, rakus, dan kejam. Hal itu karena pengaruh dari Maha Patih yang sangat licik. Saat Permaisuri mengandung anak keduanya, Cengkar mengancam Permaisuri apabila anak yang dikandungnya laki-laki maka ia akan membunuhnya karena ia takut ada pesaing putra mahkota. Ternyata anak yang dilahirkan laki-laki. Permaisuri pun menitipkan anaknya kepada pengasuh istana karena takut anak keduanya akan dibunuh oleh Cengkar. Permaisuri juga memberikan gelang Mustikaraja sebagai bukti bahwa anak tersebut merupakan anak seorang Raja. Setelah menyerahkan anak tersebut Permaisuri bunuh diri. Cengkar menuntut Raja agar segera menyerahkan kekuasaannya, namun sang Raja menolaknya dan Cengkar pun membunuh Raja, sehinggga ia diangkat sebagai putra mahkota oleh sang Mahapatih. Anak Permaisuri yang kedua bernama Saka kini sudah tumbuh besar dan akhirnya mengetahui bahwa dia merupakan anak seorang Raja, ia pun berusaha menentang Cengkar karena Cengkar tidak bisa memimpin dengan baik. Akhirnya terjadi pertempuran antara Saka dan Cengkar, yang dimenangkan oleh Saka. Saka akhirnya memimpin negeri itu dan akhirnya negeri itu menjadi negeri yang makmur dan damai.

Pentas budaya satekari berakhir pada pukul 21.45 WIB dan ditutup dengan sebuah lagu berjudul Bendera yang dinyanyikan oleh anak-anak SAKA. Akhirnya terbayar sudah rasa penasaran para penonton. Sampai bertemu lagi di acara pentas mandiri selanjutnya. (Red)